The Inventor’s Journey
Satu gagasan sederhana.Sebuah perjalanan untuk Indonesia.
Bagi Pak Hadi, kapal bukan hanya benda yang bergerak di atas air. Ia adalah bagian dari kehidupan, kemampuan untuk bekerja, dan kemandirian masyarakat pesisir.
(ALM.) IR. HADI TRESNO WIBOWO, M.T.
INVENTOR KAPAL PELAT DATAR / DOSEN TEKNIK PERKAPALAN UI

Di balik pertanyaannya
Yang dipikirkan bukan hanya kapal.
Melainkan orang-orang yang hidup darinya.
Di pesisir, kapal dibangun, dijalankan, dirawat, dan diperbaiki dengan pengetahuan yang diwariskan turun-temurun. Ketika kayu semakin sulit diperoleh, persoalan itu menyentuh lebih dari bahan konstruksi: ia menyentuh keberlangsungan sebuah cara hidup.
Kepedulian Pak Hadi membawa sebuah pertanyaan: bisakah kapal baja dibuat dengan konstruksi yang lebih sederhana, sehingga teknologinya tidak berhenti sebagai pengetahuan di kampus, tetapi dapat dipelajari dan dikerjakan di galangan lokal?
Pelat datar membuka jalan untuk mengurangi pekerjaan pembentukan baja yang kompleks. Di balik kesederhanaan tersebut, perhitungan dan pengujian tetap diperlukan. Inilah dua hal yang berjalan bersama dalam gagasannya: mendekatkan teknologi kepada masyarakat, sambil menjaga tanggung jawab rekayasa.
“Kapal ini lebih kuat dari kayu dan fiber. Kalau nelayan nanti sudah mampu membuat kapal dari pelat baja ini, potensinya akan lebih besar lagi.”
IR. HADI TRESNO WIBOWO, M.T.
Kutipan Pak Hadi sebagaimana dicantumkan dalam arsip narasi KPD. Pernyataan ini merekam visi beliau; perbandingan kekuatan aktual tetap bergantung pada desain dan konstruksi.
- 2009
THE QUESTION
Berangkat dari kehidupan nelayan.
Ketika bahan baku kayu semakin sulit diperoleh, pertanyaan tentang kapal menjadi pertanyaan tentang keberlanjutan penghidupan. Pak Hadi melihat kebutuhan akan alternatif yang kuat, terjangkau untuk dibangun, dan dapat dipahami oleh masyarakat pesisir.
- 2010
THE RESEARCH
Menemukan bahasa untuk bentuk yang sederhana.
Akar akademik gagasan ini bersentuhan dengan pendekatan lambung pelat datar Prof. Gallin di TU Delft dan kapal Pioneer pada akhir 1970-an. Pak Hadi membawa pendekatan tersebut ke konteks Indonesia. Rekam ilmiah 2010 mendokumentasikan pengembangan desain, pemodelan digital, perhitungan, dan fabrikasi—bukan sekadar perubahan tampilan lambung.
- 2012
FROM LAB TO SEA
Riset bertemu tangan dan harapan nelayan.
Kapal untuk nelayan Limbangan di Desa Balongan, Indramayu, menjadi salah satu langkah awal membawa teknologi keluar dari kampus. Dalam arsip perjalanan KPD, kapal ini dikenang sebagai kapal ikan baja pertama di lokasi tersebut. Inovasi mulai berhadapan langsung dengan cara kerja, kebutuhan, dan pengetahuan masyarakat setempat.

- 2013
INTELLECTUAL PROPERTY
Gagasan memiliki jejak kepemilikan.
Perjalanan berlanjut ke pendaftaran kekayaan intelektual. Register paten P00201304514 menjadi penanda yang menyertai identitas Kapal Pelat Datar. Nomor register ditampilkan sebagai jejak dokumentasi, bukan pengganti perhitungan atau persetujuan teknis sebuah kapal.
- 2014
TRIWITONO
Kapal menjadi ruang belajar yang mengapung.
FTUI meluncurkan Triwitono sebagai kapal pendidikan dan riset. Namanya mengabadikan tokoh perintis pendidikan Teknik Perkapalan UI. Kapal ini mempertemukan inovasi lambung pelat datar dengan misi pembelajaran: mahasiswa dapat membaca rekayasa bukan hanya di atas kertas, tetapi juga di atas air.
- 2015
FROM INVENTION TO INDUSTRY
Murid-murid ikut membawa gagasan ke galangan.
Dalam kronologi pengembangan KPD, 2015 menandai langkah inovasi menuju industri bersama PT Juragan Kapal Indonesia dan para murid Pak Hadi. Pengetahuan kampus memperoleh jalur baru: desain perlu dijelaskan, produksi perlu diatur, dan pengguna perlu didampingi. Teknologi mulai tumbuh bersama sebuah organisasi.
- 2016
PROVING THE TECHNOLOGY
Desain diperiksa, pembuktian dilanjutkan.
Desain kapal ikan 20 GT memperoleh sertifikat desain BKI dalam rangkaian pengembangan yang ditampilkan pada HaktekNas di Makassar. Tonggak ini berkaitan dengan desain tertentu; ia tidak berarti seluruh model atau setiap kapal KPD otomatis tersertifikasi.

- 2017
A NEW GENERATION
Bentuk berkembang, percakapan meluas.
Dua prototipe semi-trimaran menjadi bagian dari generasi berikutnya. Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir memberi nama Cucut Nusantara dan Barakuda Nusantara. Gagasan awal terus dikembangkan, sambil tetap membawa pertanyaan tentang konstruksi, performa, dan kebutuhan Indonesia.
- 2019
THE MARKET
Menjawab kebutuhan di Bintuni.
Pesanan kapal baja berkapasitas 16 penumpang untuk Bintuni, Papua Barat, menjadi tonggak pasar yang dicatat dalam arsip perjalanan KPD. Di sini, inovasi tidak cukup hanya menarik untuk dipelajari: ia harus menjawab kebutuhan angkutan, pengguna, dan kondisi operasi setempat.

- HARI INI
THE LEGACY
Ilmu berlanjut, meski sang guru telah berpulang.
Warisan Pak Hadi hidup dalam pengetahuan yang diteruskan kepada murid-muridnya, gambar yang menjadi kapal, serta kemampuan yang bertumbuh di galangan. Adi Lingson dan tim Juragan Kapal melanjutkan pekerjaan ini: menjaga ketelitian rekayasa sambil membuka kesempatan agar inovasi semakin dekat dengan masyarakat.
Warisan yang diteruskan
Kapalnya akan terus berlayar.
Teknologinya akan terus berkembang.
Dan cita-citanya akan terus hidup.
Dari seorang guru kepada murid-muridnya. Dari ruang riset menuju galangan. Dari lembar gambar ke perairan Nusantara. Pekerjaan ini dilanjutkan untuk membawa kapal karya anak bangsa semakin dekat kepada identitas kapal nasional.
Kenali Adi, yang melanjutkan perjalananJejak sumber
Sebuah penghormatan.
Dengan jejak yang terbuka.
Kronologi disusun dari arsip pengembangan KPD dan narasi yang disampaikan Adi Lingson, dilengkapi rujukan akademik serta publikasi institusi. Tonggak pengembangan tidak selalu sama dengan tanggal pendirian badan hukum. Halaman ini adalah narasi perjalanan, bukan dokumen sertifikasi.